Navigasi “SmartPath” Membuat Bandara Lebih Aman dan Hemat

1953487Honeywell-Smartpath780x390

Honeywell, pabrikan & penyedia system penerbangan, menawari solusi infrastruktur penerbangan terbarunya yg diklaim lebih trendi, presisi, & irit anggaran di bandingkan bersama system yg dimanfaatkan bandara-bandara di Indonesia sekarang ini.

Kami telah bicara dgn Airnav buat sediakan solusi GBAS kami biar mampu diperlukan di bandara-bandara agung di Indonesia, kata Paul Neff, Usaha Development Director Honeywell Asia Pacific disaat dijumpai KompasTekno di arena Singapore Airshow, Pebruari dulu di Singapura.

GBAS (ground-based augmented sistem) yakni solusi & infrastruktur dari Honeywell yg di dalamnya termasuk juga SmartPath, system pemandu pendaratan pesawat yg lebih mutahir dari system ILS (instrument landing systems) yg tidak sedikit digunakan disaat ini.

Menurut Paul, GBAS bakal sesuai diimplementasikan di bandara-bandara di Indonesia yg sibuk, seperti Soekarno-Hatta di Jakarta.

Alih-alih memakai frekuensi radio sama seperti ILS, GBAS memakai anjuran satelit GPS buat mengarahkan pesawat mendarat.

Solusi ini pun diklaim oleh Paul jadi solusi yg lebih murah, baik dalam perihal investasi ataupun pemeliharaan seandainya di bandingkan bersama system ILS.

Bandara cuma perlu satu infrastruktur buat instrumen pendaratannya, mereka tidak butuh memasang ILS di masing-masing ujung runway, budget perawatannya pun murah imbuh Paul.

Ekonomis & selamat

Disaat ditanya berapa investasi yg dibutuhkan utk memasang GBAS SmartPath dari Honeywell, Paul menolak buat menyebutkan angkanya. Beliau menyampaikan bahwa anggaran pemasangan mampu berbeda-beda antar airport, sebab tidak sedikit elemen, seperti area & keperluan.

Tetapi Paul menyampaikan, system SmartPath sanggup menghemat budget perawatan sampai 400.000 dolar AS bila di bandingkan bersama budget perawatan satu system ILS di bandara.

Paul mencontohkan bandara Kingsford Smith di Sydney, Australia yg jadi bandara mula-mula dalam mengadopsi GBAS. Enam system ILS yg diawal mulanya digunakan dapat digantikan bersama satu system GBAS.

Satu system GBAS tersebut dikatakannya dapat melayani 48 pesawat yg sedang jalankan approach.

Sementara itu, Humas Airnav Muji Soebagyo dikala dihubungi KompasTekno mengemukakan tehnologi GBAS benar-benar dapat amat menopang tugas Pegawai pengendali hawa (ATC), tapi ia belum dapat mengkonfirmasi bandara mana saja di Indonesia yg dapat memakai solusi itu.

Menurut ia, GBAS mempunyai tingkat akurasi yg lebih tinggi dibanding ILS, maka mempunyai jaminan keselamatan yg lebih tinggi serta.

Kita benar-benar seandainya technologi paling baru ingin ambil, sebab pesawatnya serta makin trendi, hanya apabila mereka (Honeywell) menawarkan kami belum tahu, kelak aku tanyakan ke sektor lain.

 

Bandar Bola Terbaik